Ekspedisi Gunung Lawu

Pendakian Gunung Lawu With Putra 19 pada 17 Agustus.

TSPM

Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Sragen Expo University

Pemapar Sosialisasi UNNES di Sragen.

Forum UKM Jateng

Forum UKM Jateng diselanggarakan oleh Gubernur Jawa Tengah.

Racana Wijaya

Gemilang Dan Berprestasi Dalam Satu Keluarga.

Kamis, 22 Januari 2015

39 tahun Gudep Pramuka Unnes


Sebuah perjalanan hidup yang berliku, berlurah, dan berbukit
Oleh : Kak MT Ardiyansah

39 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk ukuran organisasi. Untuk sebuah gugusdepan, inilah usia yang selayaknya telah matang dalam pengabdian. Ketua Dewan Racana boleh silih berganti, datang dan pergi, anggota Racana Wijaya boleh mengikuti Penerimaan Tamu, dan Anggota lalu mengikuti Purna Bakti Anggota. Namun, tak dapat dipungkiri, nama Racana Wijaya akan tetap menjadi sebuah kenangan yang takkan terlupakan, mengguriskan sebuah pengalaman dalam kehidupan, menyiratkan makna dalam setiap derap kegiatan, melukiskan harmoni dalam semua aktifitas, tempat menempa diri, menderaikan tawa, menitikkan air mata.
Marilah kita sejenak menengokkan kepala ke belakang, kapankah persaudaraan bakti dengan nama Gugusdepan Kota Semarang 14.111-14.112 Universitas Negeri Semarang menunjukkan namanya ke bumi persada.

Sabtu, 19 Juli 2014

Kasus Pelanggaran HAM dan Atheis

 Kasus Pelanggaran HAM dan Atheis
1.    Contoh konkrit dapat dikemukakan diantaranya: pembubaran DPR hasil pemilu 1955 oleh presiden Soekarno tahun 1960, penolakan permohonan untuk mendirikan partai politik, pembekuan partai politik, pembrendelan majalah dan koran, peristiwa Tanjung Priuk, Peristiwa Dili, Aceh dsb. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia sebetulnya karena terjadinya pengabaian terhadap kawajiban asasi. Sebab antara hak dan kawajiban merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Bila ada hak pasti ada kewajiban, yang satu mencerminkan yang lain. Bila seseorang atau aparat negara melakukan pelanggaran HAM, sebenarnya dia telah melalaikan kewajibanya yang asasi. Sebaliknya bila seseorang/kelompok orang atau aparat negara melaksanakan kewajibanya maka berarti dia telah memberikan jaminan terhadap hak asasi manusia. Sebagai contoh di negara kita sudah punya UU No.9 tahun 1998 berkenaan dengan hak untuk menyampaikan aspirasi secara lisan dan tertulis. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati hak orang lain seperti tidak mengganggu kepentingan orang banyak, mentaati etika dan moral sesuai dengan budaya bangsa kita.
2.    Contoh lain, dalam lingkungan kampus dapat saja terjadi mahasiswa yang melakukan kegiatan  seperti diskusi yang bebas mengemukakan pendapat tetapi mereka dituntut pula menghormati hak-hak orang lain agar tidak terganggu. Begitu pula kebebasan untuk mengembangkan kreativitas, minat dan kegemaran (olah raga, kesenian, dll) tetapi hendaklah diupayakan agar kegiatan tersebut tidak mengganggu kegiatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa atau warga kampus lainnya yang juga merupakan haknya. Banyak contoh lain dalam lingkungan kita baik di kampus maupun di dalam masyarakat yang menuntut adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Untuk itu marilah kita laksanakan apa yang menjadi hak dan kewajiban kita dan itu termuat dalam berbagai aturan/norma yang ada dalam negara dan masyarakat.
3.    Pada bulan Februari 2012, seorang pegawai negeri Indonesia bernama Alexander Aan menulis sebuah komentar di akun Facebook khusus kelompok ateis yang mengatasnamakan masyarakat Minang dengan menyatakan bahwa "Tuhan itu tidak ada" serta mengunggah gambar tentang Nabi Muhammad yang dinilai menghina Islam. Ia ditangkap dan dituduh telah melakukan penistaan agama. Pada tanggal 14 Juni, Alexander dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara selama dua setengah tahun dan denda sebesar seratus juta rupiah. Peristiwa ini menimbulkan perdebatan terkait dengan legalitas ateisme dan kebebasan beragama di Indonesia, bahkan kasusnya ini ditanggapi oleh Amnesty International, yang menganggap bahwa ia telah dijadikan "tahanan keyakinan".

Jumat, 04 Juli 2014

Legasi Tak Berujung

Jakarta, 1966. Soekarno yang memerintah enam tahun dengan Demokrasi Terpimpin
yang gegap-gempita itu digantikan seorang tentara pendiam. Ia tampan, di tangannya
ada selembar surat mandat berkuasa: Supersemar.
Sejak itu, bahkan berpuluh-puluh tahun berselang, setelah jenazahnya dikebumikan
di Astana Giribangun, Karanganyar, Senin pekan lalu, jenderal pendiam itu terus mengharu
biru bangsa ini. Ya, Soeharto (1921-2008) tak berhenti di situ.
Ada nostalgia yang selalu membuat orang rindu akan stabilitas yang dibangunnya
dulu, manakala demokrasi menimbulkan riak-riak ketidakpastian: munculnya raja-raja kecil
di daerah, kebebasan berekspresi yang berisik, dan para oportunis mendominasi panggungpanggung
kekuasaan. Dan sikapnya yang tak pernah beringsut dari doktrin NKRI dan tidak
toleran terhadap aspirasi daerah itu sekonyong-konyong jadi alternatif ketika separatisme
mulai menggejala di Sumatera,Maluku, Papua, dan belahan lain di negeri ini.
Bagaimana ia bisa begitu merasuk ke dalam aliran darah bangsa ini?
Tiga puluh dua tahun berkuasa, Soeharto tentu saja mempunyai banyak kesempatan
untuk berbuat baik maupun buruk-ia melakukannya, silih berganti. Namun ada proses yang
seakan terus-menerus berlangsung di masa pemerintahan yang panjangnya hanya bisa
dikalahkan oleh pemimpin Kuba Fidel Castro itu, yaitu sentralisasi, bahkan kemudian

Kamis, 26 Juni 2014

KOPIKO ( KOMIK PENDIDIKAN ANTI KORUPSI ) Daku Korupsi, Daku Tersakiti

Sudah hadir komik inspiratif !!!!!!!!!!
KOPIKO ( KOMIK PENDIDIKAN ANTI KORUPSI )
Daku Korupsi, Daku Tersakiti
Berisi cerita yang ringan untuk dibaca.
Penasaran??
Ingin Membaca ??
Secara Cuma-cuma ??
Bilamana minat bisa hubungi
085642097817
Tidak dipungut biaya, hanya mengganti biaya cetak



KOPIKO
KOMIK PENDIDIKAN ANTI KORUPSI


Selamat Datang Di Blog Of Civic Education ( Santun,Berbudaya,Berkatarker, Edukasi dan Inovatif)